Psikotes, Sertifikat Mutlak Kemampuan Anak?

Stunt Plane, Air Show, AircraftPsikotes bersifat kondisional sehingga tidak bisa mengukur kemampuan anak secara utuh dan berlaku selamanya. Anda baru saja menerima selembar kertas hasil psikotes si kecil. Rasa kecewa tidak dapat dielakkan melihat indeks angka penunjuk kecerdasan anak tidak sesuai dengan harapan Anda. “Benarkah anakku tergolong tidak pintar? ” Ini yang segera terbersit dalam pikiran. Psikotes sering diasumsikan sebagai tes mengukur tingkat kecerdasan (IQ). Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun psikotes tak hanya mengukur inteligensi, tapi juga kepribadian seseorang. Menurut psikolog perkembangan anak dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri MSi, psikotes merupakan istilah lain dari tes-tes psikologis yang dimaksudkan untuk mengetahui, menganalisa dan memahami aspek psikologis individu yaitu inteligensi dan atau sosial-emosi. Setiap tes memiliki tujuan dan penggunaan yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan. Psikotes untuk orang dewasa berbeda dengan psikotes untuk anak-anak, baik isi maupun metode pengetesannya. Jenis tes psikologi anak juga beragam disesuaikan dengan kegunaan dan tahapan usianya. Metode yang digunakan pun beragam, misalnya menjawab pertanyaan, bercerita, menggambar, atau mengerjakan aktivitas lain.

Setiap tes psikologi sudah didesain berdasarkan tingkat kemampuan anak. Jadi, tidak mungkin anak usia 2 tahun diminta untuk menuliskan kalimat. Menurut psikolog perkembangan anak dari Universitas Indonesia, Surastuti Nurdadi Msi, psikotes bersifat kondisional artinya menguji kemampuan anak pada suatu kondisi tertentu. Sehingga bisa dikatakan tidak bisa mengukur kemampuan anak secara utuh dan berlaku selamanya. Surastuti mengatakan, psikotes yang formal dan terstandarisasi untuk anak prasekolah dan sekolah seharusnya dilakukan secara individual, bukan tes massal atau berkelompok dan dilakukan dengan interaksi langsung, berupa interview mendalam dan observasi. Idealnya waktu psikotes memakan waktu minimal 1-2 jam. Didahului dengan suatu tahapan khusus untuk membina hubungan dengan anak agar mereka merasa aman dan nyaman. Misalnya dengan mengajak anak bermain terlebih dulu. Sehingga terjadi pendekatan emosi antara psikolog dengan anak untuk membangun kepercayaan anak. Hal ini akan memudahkan psikolog menggali potensi anak. ‘’Mimik wajah, ekspresi, bahasa tubuh, pemilihan kata-kata, dan keluwesan anak menjadi hal-hal yang diamati. Umumnya psikotes dilakukan hanya sebagai pendamping dalam pemeriksaan,’’ papar Surastuti. Secara umum, lanjut Alzena, terdapat dua skala terstandardisasi, yaitu skala Wechsler dan skala Stanford-Binet (SB).

Aspek-aspek kecerdasan yang diukur, misalnya aspek pengetahuan umum, logika-spasial, dan pemahaman bahasa. Seringkali juga dimasukkan aspek kepribadian yang mengukur motivasi, emosi, dan ketekunan. Untuk setiap aspek psikologi terdapat cara pengetesan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak. Untuk mengetahui kemampuan inteligensi dilakukan tes yang meliputi aspek psikologis, keterikatan terhadap tugas, dan aspek perkembangan sosial. Yang biasa diukur dan dianalisis pada aspek psikologis adalah kemampuan berpikir yang terdiri atas daya tangkap, minat terhadap lingkungan, konsentrasi, abstraksi verbal, kemampuan analisis sintesis, dan kemampuan numerik. Tes aspek keterikatan terhadap tugas (task commitment) meliputi inisiatif, daya tahan, ketelitian,dan kecekatan. Sedangkan tes aspek perkembangan sosial menelaah pemahaman nilai sosial, penyesuaian diri, dan kematangan emosi. Sedangkan jenis tes IQ yang tidak memenuhi standarisasi bisa dilakukan secara berkelompok. Namun, jumlah dan usia pesertanya dibatasi, maksimal empat anak dan berusia di atas 5 tahun. Umumnya tes psikologis formal atau yang telah terstandardisasi ini dapat dilakukan saat anak usia 3 tahun ke atas.

“Di usia ini anak sudah mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik. Sehingga memperkecil kemungkinan kesalahan atau ketidakakuratan hasil pengetesan karena faktor lain,” papar Alzena. Setelah mengikuti psikotes orang tua akan menerima hasil berupa psikogram. Dalam hasil tersebut dituliskan mengenai taraf kecerdasan anak menurut skala tertentu. Sehingga orangtua dapat melihat sejauh mana kemampuan anak. Psikogram juga berfungsi sebagai sertifikat bahwa anak telah mengikuti pemeriksaan psikologis. Namun, tidak semua pemeriksaan psikologis memerlukan psikogram. Hanya bila diminta oleh pihak ketiga, misalnya sekolah. Psikolog akan menjelaskan hasil pemeriksaannya kepada orangtua. Jadi, mintalah penjelasan atau konseling secara detil. ”Terkadang kesalahan orangtua hanya melihat angka dalam psikogram. Sebaiknya diskusikan dengan psikolog,” ujar Surastuti. Angka kecerdasan anak terkadang tetap pada golongan tertentu namun dapat juga berubah. Bila konsep cerdas yang digunakan adalah konsep cerdas secara kognisi, psikotes dapat dijadikan landasan untuk melihat taraf kecerdasan anak. Yang harus diingat orangtua, anak tak hanya cerdas kognisi. Namun masih banyak kecerdasan lainnya dalam diri anak. “Psikotes bukanlah harga mati yang menentukan anak cerdas atau tidak,” kata Alzena.

Siap Hadapi Tes Psikotes? Pelajari 3 Trik Rahasianya Disini

https://www.selipan.com › tips › sukses › 3-trik-rahasia-tes-psikotes

Jangan pernah ikuti apa kata orang ketika disuruh gambar orang, rumah, atau pohon saat tes psikotes! Baca dulu trik dan 12 contoh soal psikotes disini!

Tidak mutlak jika anak mendapatkan IQ tinggi menandakan ia pasti berprestasi di sekolah. Bukan berarti tanpa belajar, anak dapat menghasilkan prestasi yang baik. Sebaiknya anak tak hanya berprestasi dalam bidang akademik saja. Kecerdasan merupakan potensi yang dimiliki yang harus diasah dan dilatih. Sah-sah saja mengetahui potensinya, agar anak dapat diarahkan dan belajar menggunakan potensinya dengan optimal. Surastuti mengatakan, psikotes dilakukan bila orangtua merasa perlu mengetahui kecerdasan dan kepribadian anak. Sehingga tidak perlu dilakukan setiap tahun. Tujuannya, agar dapat mengarahkan potensi dan minat anak. Sebaiknya sampaikan maksud dan tujuan Anda, agar psikolog dapat memberikan saran pengembangan yang tepat sesuai kemampuan anak. Idealnya, anak berusia sekitar 8-12 tahun dapat mengikuti psikotes untuk mengarahkan potensi belajar dan minatnya. Namun, jika anak mengalami gangguan emosi, psikotes bisa dilakukan 6 bulan berikutnya. Selain itu ada faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil psikotes. Alzena memaparkan, ketidaknyamanan akan membuat anak tidak termotivasi. Dampaknya, hasil psikotes pun tidak optimal seperti anak sedang mengantuk, sakit, perasaan malas, marah, sedih, atau terpaksa.

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *